Bunda Fathimah Titip Pesan dari Hong Kong: “Gus, Setiap Bulan Kirim Dai ke Sini”
Event Dakwah

Bunda Fathimah Titip Pesan dari Hong Kong: “Gus, Setiap Bulan Kirim Dai ke Sini”

August 16, 2026 8 min read
CMS Profile
Published on August 16, 2026
Last updated: Aug 17, 2026
Bunda Fathimah Titip Pesan dari Hong Kong: “Gus, Setiap Bulan Kirim Dai ke Sini”

Bunda Fathimah Titip Pesan dari Hong Kong: “Gus, Setiap Bulan Kirim Dai ke Sini”

Berawal dari silaturahmi sejak 2013, perjalanan Gus Isqowi membentang dari Jakarta hingga Hong Kong hingga harapan menghadirkan dai setiap bulan.

Sebuah Telepon Bunda Fathimah dan Jejak Silaturahmi yang Membawa Saya dari Jakarta ke Hong Kong

Ada telepon yang barangkali hanya berlangsung beberapa detik, tetapi kelak ketika dikenang, terasa seperti pintu yang membuka perjalanan panjang.

Awal April 2019, telepon itu datang dari Hj. Fathimah Angelia, Ketua PCI Muslimat NU Hong Kong-Macau yang sudah saya kenal sejak 2013, ketika pertama kali saya melakukan perjalanan dakwah ke Hong Kong.

“Gus, saya sudah di Jakarta. Kalau ada waktu, temani saya, ya.”

Kalimatnya sederhana. Tetapi begitulah cara Bunda Fathimah menghubungi saya setiap kali berada di Indonesia. Tidak banyak basa-basi. Seolah kami sudah tahu apa yang harus dilakukan setelah telepon itu berakhir. Saya sering mengajak tim RUMAH DAI, dan pada kesempatan tertentu saya mengajak istri.

Hari itu saya pun berangkat.

Bunda Fathimah sedang berada di rumah Kang Sastro Al - Ngatawi, budayawan Nahdlatul Ulama yang pernah menjadi juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah saya sehingga tidak sampai dua puluh menit, saya sudah tiba.

Di rumah itu telah menunggu Kang Sastro, Mbak Arifah Fauzi, dan tentu saja Bunda Fathimah. Begitu bertemu, suasana segera mencair. Ada jenis keakraban yang tidak membutuhkan waktu untuk diciptakan. Ia tumbuh begitu saja, mungkin karena kami sama-sama pernah melewati lorong almamater yang sama: IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang kini menjadi UIN Sunan Kalijaga.

Dari satu cerita ke cerita lain, sore itu berlalu tanpa terasa. Almamater membawa kami kembali kepada masa lalu, sementara NU dan dakwah membawa percakapan kepada masa kini. Di antara cerita-cerita itu terselip rencana untuk esok hari. Saya akan menemani Bunda Fathimah berkeliling Jakarta, menemui beberapa tokoh, salah satunya KH Ma’ruf Amin.

Waktu itu suasana politik Indonesia sedang hangat. Pilpres 2019 tinggal beberapa pekan. KH Ma’ruf Amin tengah mendampingi Joko Widodo sebagai calon wakil presiden. Kami datang bukan untuk membaca masa depan. Kami hanya datang untuk menyambung silaturahmi. Selebihnya, biarlah sejarah yang menuliskannya.

Dan sejarah kemudian mencatat, pasangan Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin terpilih memimpin Indonesia.

                                                                      ***

 

Beberapa pekan setelah perjumpaan itu, saya bersama tim RUMAH DAI berangkat ke Hong Kong. Tanggalnya masih saya ingat: 6 Mei 2019

Lawatan dakwah itu berlangsung sekitar dua minggu. Anehnya, perjalanan yang baru saja dimulai langsung mempertemukan saya kembali dengan Kang Sastro. Kali ini bukan di rumah yang tenang di perbatasan Depok dan Tangerang Selatan, melainkan di atas panggung di Hong Kong.

Kang Sastro hadir bersama Ki Ageng Ganjur, kelompok musik yang memadukan gamelan, alat musik modern, dan nuansa Timur Tengah. Musik mengalun, lampu panggung menyala, dan di antara keramaian Hong Kong saya kembali melihat wajah-wajah yang beberapa waktu sebelumnya masih duduk bersama di rumah Kang Sastro.

Ada Kang Sastro. Ada Mbak Arifah. Ada Mel Shandy penyanyi legendaris tahun 90 an . Dan saya berada di antara mereka bersama di atas panggung.

Kadang perjalanan hidup memang seperti itu. Kita mengira sebuah pertemuan telah selesai ketika kita meninggalkan sebuah rumah. Ternyata beberapa pekan kemudian Allah mempertemukan kembali di tempat yang sama sekali berbeda.

Barangkali silaturahmi memang mempunyai jalannya sendiri. 

                                                                        ***

Tahun berganti. Kota-kota berganti. Kesibukan datang silih berganti. Tetapi ada hubungan yang tidak ikut larut bersama waktu.

Hubungan saya dengan Bunda Fathimah tetap terjaga. Setiap kali beliau berada di Indonesia, hampir selalu ada kabar. Begitu pula ketika kami kembali bertemu di Hong Kong. Pada pertemuan terakhir kami di Hong Kong, Bunda Fathimah menyampaikan sebuah harapan yang cukup konkret.

 “Gus, kalau bisa setiap bulan dikirim dai ke Hong Kong.”

Kalimat itu sederhana, tetapi saya memahami kerinduan yang ada di baliknya. Di balik gedung-gedung tinggi dan kesibukan kota, ada saudara-saudara Muslim yang membutuhkan pencerahan. Ada para pekerja migran yang membutuhkan ruang untuk menenangkan hati dan menguatkan iman. Ada jamaah yang ingin terus mendapatkan siraman rohani dari para dai dari tanah air.

Harapan Bunda Fathimah itu sebenarnya sejalan dengan ikhtiar RUMAH DAI yang telah berjalan jauh sebelumnya. Sejak 2014, RUMAH DAI telah mendelegasikan para dai untuk berdakwah ke luar negeri. Dakwah lintas negeri menjadi bagian dari perjalanan kami, termasuk menjalin silaturahmi dan menghadirkan pencerahan bagi masyarakat Muslim Indonesia di berbagai negara.

Namun pandemi COVID-19 mengubah banyak hal. Mobilitas terhenti, perjalanan menjadi terbatas, dan berbagai kegiatan dakwah ke luar negeri pun ikut terhenti. Setelah itu, keinginan untuk menghidupkannya kembali masih ada, tetapi hingga kini belum dapat berjalan secara rutin karena masih menghadapi sejumlah kendala teknis.

Karena itu, permintaan Bunda Fathimah di Hong Kong saya pahami bukan sebagai sesuatu yang sama sekali baru. Justru ia seperti mengingatkan kembali sebuah jalan yang pernah kami tempuh: bahwa dakwah tidak semestinya berhenti hanya karena jarak dan batas negara.

Saya percaya, niat baik tidak pernah benar-benar sia-sia. Ada perjalanan yang harus berhenti sejenak untuk kemudian dilanjutkan dengan cara yang lebih baik. Ada cita-cita yang membutuhkan waktu untuk menemukan kembali jalannya.

Dan mungkin, harapan Bunda Fathimah itu adalah salah satu pengingat agar ikhtiar tersebut kembali kami hidupkan.

                                                                            ***

Beberapa waktu kemudian, tepatnya pada Desember 2025 , Bunda Fathimah yang merupakan  istri dari mantan ketua tanfidziyah PCI NU pertama sekaligus salah satu inisiator berdirinya NU di Hongkong , tiba-tiba mengabarkan ingin bersilaturahmi ke rumah saya di Pondok Benda, Pamulang Tangerang Selatan . 

Saya menyambutnya dengan senang hati. Dalam bayangan saya , Bunda Fathimah akan datang sendiri atau bersama beberapa orang . Namun ketika tiba, Bunda Fathimah datang bersama sejumlah sahabatnya. Ada rombongan dari PCI Muslimat NU Hong Kong-Macau, serta beberapa pengurus Masjid Wan Chai, Hong Kong, yang hadir bersama pasangan masing-masing. Rumah yang biasanya tenang mendadak berubah menjadi ruang silaturahmi yang hangat. Percakapan pun mengalir ke berbagai hal: kehidupan Muslim di Hong Kong, kegiatan dakwah, masjid, Muslimat NU, hingga harapan agar hubungan antara Indonesia dan komunitas Muslim di Hong Kong semakin erat.

Pertemuan itu sederhana, tetapi hangat. Mereka datang membawa kabar dari Hong Kong, sementara saya menyambut mereka dari rumah di Pamulang. Jarak ribuan kilometer seolah mengecil di ruang tamu itu.

                                                                                                                          ***

 

Waktu kemudian membawa saya kembali bertemu dengan Kang Sastro dan Mbak Arifah.

Pertemuan baru saja terjadi kemaren  tanggal 15 Agustus 2026 dalam Musda III IKASUKA, Ikatan Keluarga Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kali ini saya melihat sosok yang sama, tetapi dengan amanah yang berbeda.

Dulu saya mengenal Mbak Arifah dalam perjalanan bersama Kang Sastro, dalam ruang kebudayaan, dakwah, dan perjumpaan para sahabat. Kini, Mbak Arifah Fauzi telah dipercaya menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dalam Kabinet Prabowo.

Saya menyampaikan terima kasih kepadanya karena telah memberikan ucapan selamat untuk istri saya, Prof. Dr. Hj. Juhana, M.Pd., atas diraihnya jabatan guru besar. Bahkan, Mbak Arifah juga menawarkan agar istri saya bergabung dalam asosiasi profesor Muslimat NU.

Ada rasa haru kecil ketika melihat perjalanan seseorang yang pernah kita jumpai dalam sebuah episode kehidupan, kemudian bertemu lagi bertahun-tahun setelahnya dalam panggung pengabdian yang lebih besar.

Jabatan boleh berubah. Ruang pengabdian boleh meluas. Tetapi ada hal-hal yang semestinya tetap tinggal: keramahan, persahabatan, dan ingatan bahwa sebelum seseorang menjadi apa pun, ia pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.

                                                                           ***

Kini, ketika saya mengingat semuanya dari kejauhan, saya merasa cerita ini sebenarnya tidak dimulai dari Hong Kong.

Ia dimulai dari sebuah telepon.

Dari suara Bunda Fathimah Angelia yang meminta saya menemaninya di Jakarta.

Dari rumah Kang Sastro.

Dari pertemuan dengan orang-orang yang kemudian kembali hadir dalam babak-babak kehidupan yang berbeda.

Dari Jakarta perjalanan itu berlanjut ke Hong Kong.

Dari Hong Kong kembali ke Pamulang.

Dan dari pertemuan-pertemuan kecil itu lahir sebuah cita-cita besar: menghadirkan dai secara rutin bagi masyarakat Muslim di Hong Kong.

Sebagian perjalanan sudah menjadi kenangan.

Sebagian lainnya masih berupa harapan. Tetapi mungkin memang demikian cara Allah menulis kisah manusia. Kita hanya menjalani satu per satu pertemuan yang datang kepada kita, tanpa selalu tahu ke mana ujungnya.

Sebuah telepon bisa menjadi awal sebuah perjalanan.

Sebuah silaturahmi bisa menjadi jembatan antarnegara.

Dan sebuah pertemuan yang tampak sederhana bisa menyisakan cita-cita yang terus mengetuk hati bertahun-tahun kemudian.

Karena pada akhirnya, silaturahmi bukan sekadar tentang siapa yang datang berkunjung. Ia tentang apa yang tumbuh setelah pertemuan itu selesai.

 

Penulis

Gus Isqowi adalah Maestro Muhasabah, Founder Rumah Dai, dan Penggagas Gerakan Pulang melalui Majlis Pulang. Mengembangkan Metode Pulang Berbasis Gravitasi Spiritual untuk mengajak manusia kembali kepada Allah.

Tags

#undang ustadz

Related Articles

Chat with us on WhatsApp