Menembus Batas Takdir: Perjalanan Prof. Hasani Menjadi Guru Besar Tafsir Bertaraf Global
Menembus Batas Takdir : Perjalanan Prof. Hasani Menjadi Guru Besar Tafsir Bertaraf Global
JAKARTA — Ada masanya ketika takdir menjemput sebuah nama dari sudut sunyi tanah kelahiran, menuntunnya melompati batas-batas geografis yang semula tampak mustahil dilewati. Perjalanan Prof. Hasani menapak panggung akademik tertinggi nasional bukanlah sebait prosa fiksi yang bertabur kemudahan belaka. Lahir sebagai anak kampung dari ujung barat Jawa — Cilegon, tempat deru angin laut bertemu dengan riuh religiusitas tanah kulon — langkahnya merantau ke Ibu Kota bermodalkan pusaka paling abadi: al-Qur'an. Melalui kecintaan yang tulus, bait-bait hafalan yang terjaga, serta ketekunan tiada henti dalam menelisik struktur dan esensi wahyu, ia membiarkan dirinya dituntun oleh cahaya ilmu. Langkah kaki itu tidak pernah berbalik arah, mengantarkannya menuntaskan studi S1 hingga dinobatkan sebagai Doktor Terbaik di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2011 silam.
Ilmu yang ditekuninya pun bukan sekadar deretan teks mati. Fokus kajiannya bertumpu pada Tafsir Maqashidi — sebuah jembatan sunyi yang mengontekstualisasikan hukum dan ayat suci demi melahirkan kemaslahatan hakiki bagi kemanusiaan. Dari ketajaman pena dan kejernihan berpikirnya, lahirlah karya monumentalnya, "Tafsir Maqasidi: Metodologi Penafsiran al-Qur'an Berbasis Maqashid al-Syariah" (2025). Buku ini kini laksana lentera pemikiran, menjadi rujukan wajib di berbagai menara akademik perguruan tinggi Islam, baik di dalam negeri hingga melintasi batas-batas benua.
Simfoni Pengabdian: Dari Menara Gading ke Akar Rumput
Keindahan sejati dari seorang ilmuwan terletak pada kerelaannya untuk turun mendengarkan detak jantung buminya. Kehebatan Prof. Hasani terpatri pada simfoni pengabdian yang seimbang; ia tak sekadar berdiam di dalam keheningan menara gading ruang kuliah sebagai Dosen Tetap Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta. Di akar rumput, ia membumi dengan menakhodai gerbong pergerakan umat sebagai Ketua Pengurus Daerah (PD) IPIM (Ittihad Persaudaraan Imam Masjid) Kota Tangerang Selatan. Kiprahnya melaraskan harmoni dengan organisasi pemberdayaan imam masjid tingkat nasional, yang nakhoda pusatnya diamanahkan kepada Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., serta dipayungi di tingkat Provinsi Banten oleh Prof. Dr. KH. Ahmad Tholabi Kharlie, M.A.— seorang tokoh terpandang yang berasal dari rahim daerah yang sama dengannya.
Sebagai pemegang tongkat estafet IPIM di Tangerang Selatan, ia melukis pengabdian nyata: membina para penjaga mihrab, memperteguh kapasitas dakwah berbasis komunitas, serta menghidupkan kembali roh masjid tidak sekadar tempat bersujud, melainkan sebagai episentrum pemberdayaan umat. Di panggung regional dan nasional, denyut intelektualnya tak pernah absen mewarnai institusi-institusi strategis. Dirinya mengakar sebagai Syuriah PCNU Tangerang Selatan sekaligus dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Sekretaris Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.
Tutur katanya yang santun dan menyejukkan juga mengetuk jutaan pintu rumah pemirsa nasional melalui layar kaca. Melalui program-program keagamaan di TVRI, TV One, ANTV, hingga MNCTV, ia melantunkan pesan-pesan Islam dengan pendekatan yang moderat, inklusif, dan memeluk semua golongan dengan kedamaian.
Banjir Doa dan Ketulusan Para Sahabat
Ketika selembar KMA Guru Besar itu diserahkan, ia bukan sekadar tanda pencapaian pribadi, melainkan sebuah kemenangan kolektif yang disambut penuh haru oleh jagat pergerakan Islam. Gelombang ucapan selamat dan untaian doa mengalir deras, laksana air sejuk yang membasahi taman perjuangan. Ketulusan itu datang silih berganti dari para sahabat dan simpul-simpul perjuangan umat: Ketua GPS Tangsel (Gerakan Pejuang Subuh Tangerang Selatan), Ketua PW Formula (Forum Ulama dan Aktivis Islam) Provinsi Banten beserta segenap pengurus PD Formula Tangsel , Segenap civitas akademik Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah UIN Jkarta, Ketua LDNU Kota Tangerang Selatan, Panglima Dakil (Dakwah Keliling) Tangsel , Ketua DPD IMMAN (Ikatan Mubalig-Mubalighoh Nusantara) Tangerang selatan , Founder RUMAH DAI dan Pengasuh Majelis PULANG , Pengurus Nasional KMP (Kolaborasi Masjid Pemberdaya) , Ketua ORSAT ICMI Pamulang , Owner Ruang Muamalah , Majelis Pengurus Nasional HISSI (Himpunan Ilmuwan dan Sarjana Syariah Indonesia), Segenap pengurus Himpunan Qoriah dan Qori Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta , MUI Propinsi Banten , Komisi Dakwah MUI Pusat, ICMI ORDA Tangsel, PB Mathlaul anwar, PW JHQ Jakarta, PB Al Khairiyah, pengurus HCMA Matlaul anwar , keluarga besar IA Scholar Foundation Semuanya melaraskan satu doa yang sama: agar gelar tertinggi ini menjadi payung keberkahan yang menaungi langkah dakwah beliau ke depan.
Jejak Internasional dan Reputasi Akademik
Langkah kaki anak kampung ini kini telah meninggalkan jejak-jejak bermakna di atas tanah dunia. Dalam kepengasuhan ilmu dan reputasi akademiknya, Prof. Hasani Ahmad Said melanglang buana, aktif melintasi batas negara dalam berbagai forum internasional. Pemikirannya telah dipresentasikan dan diuji dalam konferensi ilmiah di belahan bumi Amerika Serikat, menapaki jalur sutra keilmuan di Uzbekistan, hingga menyapa Turki, Iran, Arab Saudi, Mesir, serta merambah kawasan Eropa dan negara-negara Asia Tenggara.
Pengembaraan intelektual lintas benua ini tidak hanya memperkaya cakrawala batin dan wawasan keilmuannya secara pribadi. Lebih dari itu, melalui suaranya, Prof. Hasani telah berhasil membawa corak dan perspektif Islam Indonesia yang damai, ramah, dan beradab ke atas panggung global—khususnya dalam bidang tafsir dan studi suci Al-Qur’an. Pencapaian ini menjadi sebuah maklumat indah: bahwa dari tanah kulon yang bersahaja, jika al-Qur'an dijadikan suluh kehidupan, ia mampu mengantarkan seorang hamba menyinari dunia.
Tentang Penulis
Gus Isqowi adalah Maestro Muhasabah, Founder Rumah Dai, dan Penggagas Gerakan Pulang melalui Majlis Pulang. Mengembangkan Metode Pulang Berbasis Gravitasi Spiritual untuk mengajak manusia kembali kepada Allah.